Purposive Random Sampling


TEKNIK SAMPLING  AND SAMPEL
Proportional  Random  Sampling
By
Agus Riyanto
           
A.      Teknik Sampel
Teknik pengambilan sampel ini dengan cara  proportional  random  sampling. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh guru  SMP Negeri X yang berjumlah 4 sekolah, yaitu SMP Negeri 1 X, SMP Negeri 2 X, SMP Negeri 3 X dan SMP Negeri 4 X  yang berjumlah 105 orang guru yang  berstatus PNS atau honor. Sampel diambil sampel 50 yang ditentukan berdasarkan teknik penentuan ukuran sampel menurut Roscoe.

Penentuan ukuran sampel menurut Roscoe dalam Sugiyono (2007: 90) menyampaikan salah satu saran dalam menentukan ukuran sampel ”Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi ganda misal-nya), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti”. Penelitian ini menggunakan 3 variabel bebas dan 1 variabel respon, dengan demikian terdapat 4 variabel. Peneliti menggunakan jumlah sampel sebanyak 12,5 kali dari jumlah variabel dengan demikian jumlah sampel adalah 4x12,5 = 50 sampel.

B.       Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 50 orang guru pada SMP Negeri di X. Jumlah sampel 50 tersebut selanjutnya diambil secara bertingkat sesuai dengan populasi pada tiap SMP Negeri. Untuk menentukan banyaknya sampel tersebut digunakan perhitungan banyaknya populasi tiap SMP dibagi dengan jumlah total populasi kemudian dikalikan dengan jumlah sampel yang akan ditentukan (Sugiyono, 2007: 90). Pendapat Sugiyono tersebut dapat diperjelas dengan penulisan sebagai berikut:

Mnggunakan rumus di atas diperoleh jumlah sampel dapat direkap dalam Tabel 3.1  di bawah ini.


Tabel 3.1.  Populasi dan Jumlah Sampel Penelitian
No
Nama Sekolah
Jumlah Populasi
Jumlah Sampel

1
SMP Negeri 1 X
44
21
2
SMP Negeri 2 X
25
12
3
SMP Negeri 3 X
16
8
4
SMP Negeri 4 X
20
9

Jumlah
105
50

Jumlah sampel dalam tabel 3.1 di atas diperoleh melalui perhitungan-perhitungan sebagai berikut.
1)      SMP Negeri 1 X
  


2)      SMP Negeri 2 X





3)      SMP Negeri 3 X





4)      SMP Negeri 4 X


        




Pengambilan sampel untuk menghindari subjektivitas dilakukan dengan cara undian, dengan cara: 1) semua nama guru per SMP ditulis dalam secarik kertas dan digulung lalu diundi, 2) nomor undian yang keluar dicatat, kemudian kertas digulung kembali dan dimasukan kembali dalam undian untuk menjaga ketelitian probabilitas sampling, 3) pengundian dilakukan sebanyak jumlah sampel per SMP yang akan diambil, 4) mengulangi langkah 1 s.d. 3 untuk pengambilan sampel pada SMP berikutnya....Here is the full article

Referensi

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Category: 0 komentar

Multivariat Calculation

Assalamualaikum Wr. Wb


MULTIVARIAT CORRELATION TEST
By
Agus Riyanto*

Hi..guys…got trouble with the calculation of correlation with more then 2 variables? May be I can help you a little with this article. Pengujian korelasi lebih dari dua variabel  menggunakan teknik korelasi multivariate. You wanna more….let’s get down to business…

A.      Uji Korelasi Antarvariabel
Pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi. Uji korelasi antarvariabel prediktor dengan variabel kriterium baik Y dengan X1,  Y dengan X2, Y dengan X3,  maupun antar variabel prediktor X1 dengan X2, X1 dengan X3, X2 dengan X3 dihitung dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment karena data yang dihasilkan adalah data yang berbentuk interval. Rumus tersebut adalah sebagai berikut.

rxy =
Hasil perhitungan selanjutnya dapat diinterprestasikan dengan dua cara, yaitu: 1) membandingkan dengan tabel interprestasi koefisien korelasi nilai r (Riduwan, 2004: 136) atau dengan menggunakan rentang nilai korelasi menurut Young (Basrowi dan Soenyono, 2007: 109), 2) mengkonsultasikan dengan nilai r pada Tabel Harga Kritik dari r Product Moment (Arikunto, 1993: 149). Tabel interprestasi koefisien korelasi nilai r dapat dilihat pada pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1  Rentang Nilai Korelasi Young
Rentang Nilai
Interprestasi
0,700-1,000
Baik positif maupun negatif menunjukan derajat hubungan yang tinggi atau sangat erat
0,400-0,700
Baik positif maupun negatif menunjukan derajat hubungan yang substansial atau erat
0,200-0,400
Baik positif maupun negatif menunjukan derajat hubungan yang rendah atau cukup erat
<0,200
Baik positif maupun negatif menunjukan derajat hubungan yang dapat diabaikan
(Basrowi dan Soenyono, 2007: 109),
1)        Uji Korelasi Parsial Jenjang Pertama (A First Order Partial Correlation)
Uji korelasi parsial jenjang pertama merupakan uji korelasi antara satu variabel prediktor dengan variabel kriterium yang dikendalikan dengan satu variabel prediktor lainnya. Pengujian ini digunakan untuk mendapatkan angka indeks korelasi yang tidak terpengaruh oleh variabel lain. Pengujian ini juga merupakan salah satu pengujian tahapan untuk mendapatkan angka indeks yang nantinya digunakan dalam perhitungan pengujian korelasi ganda.
Keterangan:
=
Korelasi antara variabel Y (kriterium) dengan variabel X1 (prediktor) dengan dikontrol oleh variabel X2
=
Korelasi antara variabel Y dengan X2
=
Korelasi antara variabel X1 dengan X2
Keterangan:
=
Korelasi antara variabel Y (kriterium) dengan variabel X2 (prediktor) dengan dikontrol oleh variabel X1
=
Korelasi antara variabel Y dengan X2
=
Korelasi antara variabel X1 dengan X2

2)        Uji Korelasi Jenjang Kedua (A Second Order Partial  Correlation)
Uji korelasi jenjang kedua adalah uji korelasi antara variabel Y dengan salah satu variabel prediktor yang dikendalikan dengan dua variabel prediktor lainnya, Dengan demikian terdapat tiga pengujian dalam korelasi jenjang kedua ini yaitu: 1) korelasi parsial antara variabel Y dengan X1 yang dikendalikan oleh X2  dan X3, 2) korelasi parsial antara variabel Y dengan X2 yang dikendalikan oleh X1  dan X3, dan 3) korelasi parsial antara variabel Y dengan X3 yang dikendalikan oleh X1  dan X2.  Hasil perhitungan uji korelasi parsial jenjang kedua ini digunakan juga untuk syarat perhitungan uji korelasi ganda. Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai berikut di bawah ini.

B.       Uji Korelasi Ganda
Perhitungan korelasi ganda dengan empat variabel (tiga variabel prediktor dan satu variabel kriterium) selain dibutuhkan nilai rhitung­ korelasi antar variabel sebelumnya juga diperlukan r korelasi parsial antara variabel kriterium dengan variabel X3 yang dikendalikan oleh variabel X1 dan X2.  Perhitungan uji korelasi parsial jenjang pertama dan kedua telah dilakukan sebelumnya sehingga data indeks korelasi perolehan dari perhitungan tersebut dapat digunakan untuk menghitung korelasi ganda. COMPLETE ARTICLE HERE
Category: 0 komentar
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Hi There...everyone in English Study Program..Even Semester, Year Academic 2011/2012.
This even semester I teach Statistics, Research Methodology, Speaking III, Micro Teaching, and Seminar.
In statistics subject, I am paired with Mr. Jazim, Research Methodology, I am paired with Mr. Sudirman, in Speaking 3, I am paired with Mr. Joko Mursito.Based on our agreement, 16 meetings are divided into two terms. The seniors (Mr. Jazim, Mr. Dirman, and Mr. Joko) will take the first and the second term is mine. It means that I will not meet you for almost two monthssad0121 Free Sad Emoticons. By the way...Statistics materials can be grabbed at Photo copier stall behind Biology Lab and please buy a calculator for your self. Research Methodology materials from Mr.Dirman will be given directly by himself. Speaking 3 materials can be downloaded from my blog. The link has been activated and please read the lecture contract. I hope U all enjoy the class evilgrin0025 Free Emoticons   Evil..see you
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Category: 0 komentar

References of Research Methodology

Category: 0 komentar

Contoh menghitung reliabilitas instrumen observasi/uji speaking/writing

RELIABILITY CALCULATION OF WRITING, SPEAKING, AND
OBSERVATION INSTRUMENT

By

Agus Riyanto

Are you confuse to calculate instrument reliability when it deals with writing, speaking, and observation?  Let me help you with this article. Validitas instrumen daftar cek/pengamatan/tes kinerja/writing dilakukan pada ranah validitas konstruk dan konten. Kemudian reliabilitasnya dihitung menggunakan Rumus Cohen Kappa. Rumus Cohen Kappa digunakan untuk menguji reliabilitas lembar pengamatan (Arikunto, 2006: 208). So...here is the formula...cekidot guys!
 Keterangan:







Setelah perhitungan dengan rumus di atas selesai, data kemudian dimasukan ke dalam rumus berikut ini:









Po diperoleh dari rumus   
 

dimana S adalah Sepakat, jumlah kode yang sama untuk objek yang sama, N1 dan N2 adalah Jumlah kode yang dibuat pengamat 1 dan 2. Angka Koefisien Kesepakatan (KK) semakin mendekati 1 akan semakin baik dan tidak boleh di bawah 0,50 artinya unsur-unsur pengamatan dalam suatu instrumen telah memiliki banyak kesamaan ketika digunakan di lapangan oleh dua orang pengamat. ”Bagaimanapun upaya pengamat untuk bersikap netral, subyektivitas diri tentu masih mengiringi kegiatan sehingga hasilnya menjadi  tidak 100% obyektif” (Arikunto, 2006:199).

Let's check it out here on the example of calculation..Please put your comment first.. Download love0007 Free Emoticons   Love

Category: 0 komentar

Please vote. Usefullness of this blog based on your view

Sponsored by Randall's

Randall's ESL Cyber Listening Lab
This ESL/EFL multimedia site is designed to help English learners improve their listening comprehension through a variety of audio and video conversations, interviews, and news reports.
 
;